Blogger Tricks

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Showing posts with label Animal Science. Show all posts
Showing posts with label Animal Science. Show all posts

Friday, May 2, 2014

Paus Curriver mampu menyelam 6x kedalaman danau toba



Paus ternyata tidak hanya mampu berenang dalam rentang jarak yang luas, mamalia lautan itu juga mampu menyelam lebih dalam dari yang diduga.

Riset terbaru mengungkapkan, paus berparuh Cuvier mampu menyelam hingga hampir mencapai enam kali kedalaman Danau Toba.

Kedalaman yang mampu diselami paus Cuvier adalah 2.992 meter, sedangkan kedalaman Danau Toba bisa mencapai 505 meter.

Dengan kedalaman tersebut, paus berparuh Cuvier kini memegang rekor sebagai mamalia yang mampu berenang paling dalam.

Greg Schorr, peneliti pada Cascadia Research Collective di Washington, mengatakan, riset terhadap paus berparuh Cuvier awalnya berfokus pada efek sonar dari terdamparnya paus.

Sebelumnya diketahui bahwa akibat aktivitas sonar, ada paus jenis ini yang terdampar di Laut Mediterania, Kepulauan Canary, dan Bahama.

Sejauh ini, belum ada paus yang terdampar di wilayah selatan California, tempat yang menjadi situs tes aktivitas sonar.

Ilmuwan menandai delapan paus di Pulau St Nicholas, selatan California, untuk mengetahui pergerakan paus.

Dengan cara tersebutlah, peneliti akhirnya bisa mengetahui bahwa paus mampu menyelam hingga kedalaman yang ekstrem bagi mamalia.

Randall Davis, ahli mamalia laut dari Texas A&M University, mengungkapkan, fakta bahwa paus mampu menyelam hingga kedalaman hampir 3.000 meter sangat mengagumkan.

Pasalnya, untuk bisa menyelam hingga kedalaman itu, mamalia berisiko mengalami gagal paru hingga gangguan akibat tekanan tinggi.

Tentang gagal paru, paus berparuh Cuvier mungkin bisa mengatasinya karena tulang dada paus ini bisa melipat sehingga ada lebih sedikit udara di paru.

Namun, tentang gangguan akibat tekanan tinggi, ilmuwan belum mengetahui bagaimana paus ini bisa menanggulanginya.

Tim peneliti berharap bisa menguak misteri tersebut. Namun, saat ini mereka masih akan fokus pada riset tentang dampak aktivitas sonar.

Saturday, April 19, 2014

Apakah hewan berduka saat pasangannya meninggal?

Apakah hewan mempunyai rasa cinta dan bisa panik, stres, bingung, dan berduka ketika menyaksikan pasangan hidupnya sekarat dan akhirnya mati?

Sebuah riset pada monyet jenis marmoset yang dipublikasikan di jurnal Primates minggu ini mungkin akan membuat kita mengatakan, ya.

Riset dilakukan oleh Bruna Bezerra dari University of Bristol di Inggris dan rekannya di Federal Rural University of Pernambuco di Recife, Brasil.

Bezerra dan rekannya telah mempelajari marmoset selama bertahun-tahun. Mereka mengamati 12 marmoset, terdiri dari 4 jantan dewasa, 3 betina dewasa, dan 3 anak, dan 2 bayi.

Lewat penelitian bertahun-tahun, Bezerra berhasil mengungkap relasi antara satu individu dan individu lainnya.

Perilaku marmoset yang menunjukkan stres, bingung, dan kesedihan diobservasi tatkala salah satu betina dewasa tiba-tiba jatuh dari pohon. Betina itu disebut F1B.

Sekitar 45 menit setelah F1B jatuh, pejantan yang telah 3,5 tahun berpasangan dan hidup bersamanya, bernama M1B, menyadari bahwa pasangannya tergolek di atas tanah.

Pejantan itu kemudian meninggalkan dua anaknya yang tengah bermain di pohon dan segera menghampiri sang betina.

Pejantan tersebut menenangkan sang betina, memeluknya, dan menciumnya. Ia mengawasi lingkungan sekitar dari predator dan mencegah marmoset muda mendekati pasangannya.

"Ketika saya mengobservasi jantan dominan itu mendekati pasangannya yang sekarat, perhatiannya membuat saya tercengang," kata Bezerra seperti dikutip BBC, Selasa (15/4/2014).

Yang membingungkan, di tengah kondisi betina yang sekarat, pejantan berusaha mengajaknya berhubungan seksual.

Pejantan juga mengeluarkan suara yang berfungsi sebagai alarm bagi predator, padahal tak ada predator di sekitarnya.

Bezerra mengatakan, ajakan berhubungan seksual dan upaya mengeluarkan suara bisa jadi merupakan wujud stres yang dialami pejantan.

Dugaan lain, seks menjadi sarana bagi pejantan untuk mendekatkan diri, memancing respons, dan membangun ikatan lebih dekat dengan si betina.

"Kondisi tertekan bisa menyebabkan perilaku yang 'di luar konteks' oleh pejantan," ungkap Bezerra.

"Namun, kita juga bisa berspekulasi bahwa perilaku itu ditunjukkan untuk memancing respons betina," ujarnya.

Setelah sekarat selama 2,5 jam, F1B akhirnya kejang dan kemudian mati. Ini memicu perilaku yang menunjukkan duka yang mendalam.

Setelah F1B mati, M1B yang sebenarnya merupakan individu dominan dalam kelompoknya memisahkan diri, tak tampak lagi. Nasibnya tak diketahui.

F1B dan M1B telah hidup selama 3,5 tahun. Hubungan mereka membuahkan delapan anak yang mereka besarkan bersama.

Friday, March 28, 2014

mata ikan selalu terbuka, Kapan ikan tidur?

Seperti juga makhluk hidup lainnya, ikan juga perlu tidur, tetapi cara tidurnya berbeda dengan kita. Hampir semua ikan tidak mempunyai kelopak mata, sehingga ikan tidak dapat menutup matanya, meskipun saat itu sedang tidur pulas. Dalam keadaan mata terbuka, ikan tetap bisa tidur (beristirahat untuk memulihkan energinya).

Cara ikan beristirahat macam-macam. Ada yang berhenti berenang dan membiarkan tubuhnya melayang-layang dalam air seperti ikan tuna. Ada yang sembunyi dan diam tenang di balik terumbu karang. Ada juga yang berbaring di dasar laut, sungai, atau perairan lainnya. Sama seperti kita, ada ikan yang tidur di siang hari, ada juga yang tidur di waktu malam.

Tuesday, March 4, 2014

Ketika Ikan Berhitung

Ketika Ikan Berhitung “satu..dua..tiga..”


Mitos matematika itu sulit tak hanya berlaku di dunia manusia. Hewan-hewan dari kasta kecerdasan yang lebih rendah malah perlu lebih banyak berjuang demi melakukan perhitungan sangat sederhana. Padahal mata pelajaran “ queen of science” ini tak hanya berperan penting sebagai motor penggerak kemajuan peradaban, tetapi juga merupakan kemampuan esensial yang harus dimiliki untuk sekedar bertahan hidup. Terutama bagi seekor ikan.

Bangsa ikan tropis merupakan bangsa ikan terpintar di dunia. Namun, sepintar-pintarnya seekor ikan, tentu saja kemampuan matematikannya masih kalau jauh dari seorang bayi manusia sekalipun. Karena itulah para ilmuwan bersepakat untuk mengadakan semacam ujian matematika bagi kelompok hewan bersirip tersebut.
 
“ Pokok permasalahan utamanya adalah, bahkan dalam dunia manusia, kemampuan matematika per individu sangatlah variatif”, ujar Prof.Gerlai seorang ilmuwan psikologi dari University of Toronto
Gerlai dan Luis Gomez dari University of Oviedo di spanyol ini sebelumnya telah mengamati kebiasaan ikan tropis yang selalu bergabung dengan kelompok ikan terbanyak. Percobaan ini menggunakan ikan-ikan tropis yang masih anak-anak.
 
Ikan-ikan yang di uji kemampuan matematikanya ditempatkan ke dalam tangki khusus , dimana mereka beberapa diberikan pilihan kelompok ikan yang berbeda-beda jumlahnya. Ternyata ikan tropis dapat memilih grup ikan terbanyak bila perbandingan antar kedua grup diatas 2 berbanding 1. Dibawah rasio itu, mereka akan kesulitan menilai yang mana yang banyak atau sedikit.
 
Namun, untuk angka yang lebih spesifik, ternyata ikan tropis hanya dapat menghitung sampai 3. Jadi begitu selesai menghitung satu..dua..tiga..hanya sampai disitulah kemampuan matematikanya.
Adapun kemampuan matematika ini sebenarnya sangat dibutuhkan untuk bertahan hidup. Dengan bergabung pada kelompok terbanyak, ikan tropis dapat lebih mudah menemukan makanan dan lebih waspada dengan predator. Menurut Nicola Clayton, kecerdasan eksak ini dapat bervariasi tergantung pada tiap individu. Pada beberapa spesies, kepintaran matematika ini akan terus berkembang.
 
Jadi, bila matematika saja sangat dibutuhkan oleh seekor ikan dalam dunia bawah laut yang sederhana, apalagi untuk manusia?
 
Penelitian menarik ini dipublikasikan dalam jurnal Animal Cognition paper.
http://news.discovery.com/animals/angelfish-counting-math-110109.html#mkcpgn=rssnws1

Sunday, March 2, 2014

Alasan Kucing Berpura-pura sakit


Anda mungkin mengenal kucing sebagai “pemalas” manja yang gemar tidur berjam-jam dipangkuan sang majikan. Bahkan ia bisa tidur hingga 18 jam perhari ! Memang kemalasan ini sebenarnya sangat beralasan. Usus kucing yang pendek hanya membuatnya mampu mencerna sangat sedikit makanan sehingga ia perlu banyak menghemat energi.

Walaupun demikian, banyak keistimewaan kucing yang mengagumkan. Contohnya gagasan “Sembilan nyawa” yang membuat seekor kucing akan baik-baik saja saat terjatuh dari tempat yang sangat tinggi. Ia menerapkan hukum fisika dengan sangat baik untuk memperlambat percepatannya dalam gerak jatuh bebas.
 
Namun, itu belum semuanya. Ada lagi “keahlian” hewan “pemalas” yang gemar mengeong ini.
Pernahkah kucing kesayangan ada menunjukkan gejala-gejala berikut? menolak makanan, muntah berkali-kali , mengacak-ngacak dan mengotori sekitarnya? Jangan panik dulu. Anda mungkin khawatir bila si Kitty jatuh sakit. Akan tetapi, bisa jadi ia hanya sedang “berakting”. Tak percaya? Inilah salah satu bakat terpendam seekor kucing yang terdeteksi oleh para ilmuwan.
 
Menurut Dokter hewan, Tony Buffington dari Ohio State University perilaku kamuflase yang dilakukan oleh kucing bukanlah tanpa alasan. Bukan juga karena mereka gemar berbohong. Ternyata binatang sensitif ini mudah stres dengan keadaan lingkungan sekitarnya. Ketidaknyamanan akan membuat mereka “ngambek” dengan pura-pura sakit.
 
Judi Stella melakukan penelitian terhadap 12 ekor kucing sehat dan 20 ekor kucing sakit. Mereka ditempatkan di dalam ruangan dengan jadwal pemberian makan, bermain  dan pembersihan kandang yang teratur. Para pasien kucing pun tampak lebih segar dan tidak lagi muntah-muntah. Namun, dari minggu ke 2  hingga minggu ke 77, jadwal berubah tak teratur. Akibatnya kucing yang sehatpun stres dan menunjukkan gejala pura-pura sakit. Fakta lain yang tak kalah menarik adalah semakin tua seekor kucing, “bakat aktingnya” akan semakin meningkat. 
 
Penelitian ini dipublikasikan dalam Journal of the American Veterinary Medical Association.
 
http://www.sciencedaily.com/releases/2011/01/110103110357.htm