Blogger Tricks

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Showing posts with label astronomy. Show all posts
Showing posts with label astronomy. Show all posts

Thursday, May 1, 2014

Badai Monster Mengungkap Adanya Air di Saturnus

abeng yogta badai monster di saturnus cassini Badai Monster Mengungkap Adanya Air di Saturnus
Ilustrasi Cassini yang mengamati badai di Saturnus

Sekali setiap 30 tahun Bumi atau setara dengan satu tahun Saturnus, badai melanda belahan utara Saturnus. Terakhir, badai melanda planet itu pada tahun 2010, tumbuh menjadi badai monster yang mencapai lebar 15.000 km dan tampak oleh astronom amatir di Bumi sebagai titik putih.

Dengan bantuan data tentang badai tahun 2010 yang dimiliki oleh wahana antariksa Cassini, Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) dan peneliti University of Wisconsin, Madison, berhasil mengungkap komposisi atmosfer planet bercincin itu.

NASA dan Lawrence Sromovsky, peneliti itu, mengungkap bahwa seperti telah diprediksi dan ditemukan lewat penelitian sebelumnya, atmosfer Saturnus memiliki air dalam bentuk es. Selain itu, atmosfer planet gas itu juga terdiri atas es amonia dan molekul lain yang diduga hidrosulfida.

Dalam publikasi di edisi terbaru jurnal Icarus tertanggal 9 September 2013, peneliti mengungkapkan bahwa penelitian ini adalah yang pertama mampu menjumpai air di Saturnus dalam bentuk es, yang tak pernah bisa dijumpai sebelumnya.

Ilmuwan memercayai, atmosfer Saturnus terdiri atas beberapa lapisan, meliputi lapisan paling bawah yang terdiri atas awan air, lapisan awan hidrosulfida dan amonia di bagian tengah, awan amonia saja di bagian atas, serta molekul yang belum diketahui di lapisan paling atas.

Citra badai Saturnus yang mulai terdeteksi tahun 2010 dan berkembang hingga pertengahan 2011. Badai ini merupakan yang terbesar sejak tahun 1990.  


Badai Saturnus sebenarnya bekerja seperti badai di Bumi. Namun demikian, skala badai di planet bercincin itu jauh lebih besar dan merusak. Secara vertikal, kecepatannya bisa mencapai 480 kilometer per jam.

"Badai mulai terbentuk dari level awan air dan kemudian berkembang menjadi seperti menara penghubung yang sangat besar, seperti badai di Bumi, tetapi 10-20 kali lebih tinggi dan mencakup lebih banyak area," kata Sromovsky.

Sromovsky dalam rilis di situs web University of Wisconsin, Madison, Selasa (3/9/2013), mengatakan bahwa badai itu menarik partikel ke atas, seperti gunung berapi yang membawa material dari kedalaman. Karena itulah, material dan komposisi atmosfer Saturnus bisa terungkap.

"Air semula berada di bawah ditarik ke atas oleh proses konveksi yang sangat kuat. Uap air lalu mengalami kondensasi seiring naik ke atas. Molekul ini lalu dibungkus oleh amonium hidrosulfida dan amonia yang cepat menguap seiring suhu yang semakin menurun saat ketinggian bertambah," katanya.

Komposisi atmosfer ini hanyalah salah satu yang berhasil diungkap dengan bantuan Cassini. Sebelumnya, wahana antariksa Cassini telah menyuguhkan banyak penemuan terkait cincin Saturnus. Selain itu, Cassini juga menghasilkan potret Bumi dilihat dari Planet Saturnus.

Sunday, April 27, 2014

Lautan Luas Tersembunyi di Bawah Lapisan Es Bulan Saturnus


Ilmuwan berhasil mengungkap adanya samudra di bawah permukaan es Enceladus, salah satu bulan planet Saturnus.

Samudra tersebut ditemukan lewat analisis data yang diambil oleh wahana antariksa Cassini, wahana milik Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) yang mengorbit sistem Saturnus sejak 17 tahun lalu.

Samudra tersebut cukup luas. Jika dibandingkan dengan di Bumi, wilayah samudra itu merentang dari Kutub Selatan hingga Selandia Baru.

Diperkirakan, samudra itu merentang hingga hampir seluruh wilayah Enceladus. Namun, tidak diketahui apakah samudra yang benar-benar berisi air seperti di Bumi itu mencapai wilayah kurub utara.

Luciano Less dari Sapienza University di Roma, pimpinan tim penelitian, mengatakan, samudra tersebut berada 40 km di bawah lapisan es. Dasarnya adalah batuan.

Jonathan Lunine, pakar keplanetan dari Cornell University, mengungkapkan bahwa penemuan ini menjadikan Enceladus sebagai "tempat potensial yang sangat menarik untuk mencari adanya makhluk hidup."

David Stevenson, anggota tim riset dan pakar astronomi dari California Institute of Technology mengatakan, hasil riset ini menarik dan menunjukkan keampuhan Cassini.

"Ini tidak seperti memetakan permukaan Bumi atau Bulan. Tidak seperti itu. Ini lebih kasar. Dan, mengagumkan bahwa kita bisa melakukan yang terbaik yang bisa kita lakukan," kata Stevenson seperti dikutip AP, Kamis (3/4/2014).

Samudra di bawah permukaan es tak cuma terdapat di Enceladus. Titan, bulan lain Saturnus, serta bulan Jupiter seperti Europa juga memiliki samudra di bawah es. Hasil riset dipublikasikan di jurnal Science, Kamis.

Sunday, April 20, 2014

Hujan Berlian di Saturnus dan Yupiter


Mona Delitsky dari California Speciality Engineering di Flintridge dan Kebin Baines dari University of Wisconsin-Madison berdasarkan hasil riset mengungkapkan bahwa Jupiter dan Saturnus mengalami hujan berlian.

Keduanya memaparkan hasil penelitiannya di pertemuan divisi Ilmu Keplanetan pada American Astronomical Society yang berlangsung di Denver, Colorado, Senin (8/10/2013) lalu.

Menurut dua peneliti itu, seperti diberitakan Nature, Rabu (9/20/2013), petir merombak metana yang terdapat di atmosfer Saturnus dan Jupiter, kemudian membebaskan atom karbon penyusunnya.

Atom karbon yang dibebaskan kemudian berikatan satu sama lain, membentuk jelaga. Ketika semakin turun ke bawah lapisan atmosfer, karena suhu dan tekanan yang lebi tinggi, jelaga berubah menjadi grafit dan selanjutnya menjadi berlian.

Semakin turun, suhu di Jupiter dan Saturnus bisa mencapai 8.000 derajat celsius. Berlian yang semula padat bisa berubah menjadi cair, menjelma sebagai hujan berlian.

Baine mengatakan, di Saturnus, berlian bisa terbentuk pada kedalaman atmosfer 6.000 hingga 30.000. Menurutnya, Saturnus bisa menghasilkan 10 juta ton berlian dengan sebagian besar ada dalam bentuk batuan yang ukurannya tak lebih dari satu milimeter.

"Kalau Anda punya robot di sana, robot itu cukup duduk dan akan mengoleksi berlian yang berjatuhan," kata Baines.

Dalam pandangan dua Baines dan Delitsky, pada tahun 2049, manusia bisa mengoleksi berlian di Saturnus dan menggunakannya untuk membuat wahana superkuat guna mengambil helium 3 untuk bahan bakar.

Menanggapi penelitian Baines dan Delitsky, David Stevenson dari California Institute of Technology mengatakan bahwa dirinya meragukan riset itu.

Menurutnya, metana di Jupiter dan Saturnus rendah, hanya 0,2 dan 0,5 persen. Jadi, seperti gula dan garam dalam air, bila jelaga terbentuk, maka hanya akan larut dalam atmosfer dua planet yang kaya akan gas-gas lain itu.

Sementara, Luca Ghiringhelli, menuturkan bahwa terlalu prematur untuk mengatakan bahwa berlian bisa terbentuk di Jupiter dan Saturnus. Sebabnya, metana di dua planet itu tak sebanyak di Uranus dan Neptunus.

Bahan Penyusun Plastik Ditemukan di Bulan Saturnus



Wahana antariksa Cassini mendeteksi bahwa bulan Saturnus, Titan, kaya akan molekul propene dan propylene.

Di Bumi, molekul yang terdiri dari tiga atom karbon dan enam atom hidrogen tersebut merupakan bahan penyusun plastik.

Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) mengatakan bahwa temuan plastik di Titan merupakan yang pertama di luar Bumi.

Penemuan yang dilakukan dengan deteksi inframerah tersebut dilaporkan dalam edisi terbaru jurnal Astrophysical Journal Letters.

"Material itu ada di mana-di mana dalam kehidupan sehari-hari kita, terikat menjadi rantai panjang dalam membentuk plastik, disebut polypropylene," kata Conor Nixon, ilmuwan NASA, seperti dikutip BBC, Selasa (1/10/2013).

Titan kaya oleh hidrokarbon, didominasi metana, yang setelah nitrogen merupakan komponen yang paling melimpah di atmosfernya.

Cahaya Matahari menguraikan metana memungkinkan bagian-bagiannya bergabung membentuk molekul yang lebih besar.

Molekul lain yang dijumpai di Titan adalah propane yang di Bumi dipakai sebagai bahan perkakas masak serta ethane yang menjadi salah satu penyusun plastik jenis lain, polyethylene.

Seperti metana, propene, propane, dan ethane merupakan hasil pemecahan dari hidrokarbon yang terdapat di atmosfer Titan.

Spektrometer plasma Cassini mendeteksi adanya hidrokarbon dengan massa atom ribuan kali lebih besar dari satu atom hidrogen.

Monday, April 14, 2014

Apakah Akhir Hidup Matahari

"Apakah Akhir Hudup Matahari?" : Penemuan Chandrasekhar di usia 19 tahun
(pengetahuan populer akhir pekan)

Umur matahari kita sekarang diperkirakan sekitar 5 miliar tahun. Dan matahari masih akan hidup sekitar 5 miliar tahun lagi. Jadi sekarang matahari berada dalam setengah perjalanan hidupnya. Umur matahari berakhir ketika hidrogen sebagai bahan bakar reaksi fusi nuklir habis.

Reaksi fusi nuklir menghasilkan energi yang sangat besar. Energi yang dihasilkan menghasilkan gaya dorong pada materi penyusun matahari kea rah luar. Gaya dorong tersebut mengimbangi gaya gravitasi diri yang cenderung menarik materi penyusun matahari tumpah ke pusat. Kedua gaya tersebut seimbang (sama kuat) sehingga matahari dan bintang-bintang stabil.

Yang menjadi masalah adalah ketika hidrogen yang dikandung matahari habis. Tidak ada reaksi fusi dan tidak ada energi yang dihasilkan. Akibatnya gaya dorong ke luar yang dihasilkan energi tersebut hilang. Akibatnya gaya gravitasi diri dapat menarik semua materi penyusun matahari tumpah ke pusat. Lalu apa yang terjadi?

Ternyata prinsip eksklusi Pauli (larangan Pauli) berperan. Karena suhu yang sangat tinggi (puluhan juta celcius) maka materi penyusun matahari bukan dalam bentuk atom netral tetapi dalam bentuk inti dan elektron-elektron bebas. Elektron adalah fermion yang memenuhi prinsip eksklusi Pauli. Karena prinsip ini maka elektron tidak bisa didekatkan sedekat-dekatnya karena akan tolak-menolak (tolak-menolak Pauli). Gaya tolak Pauli ini yang akan mengambil alih peran sebagai penyeimbang gravitasi diri ketika reaksi fusi nuklir pada matahari berhenti.

Namun, kemampuan tolakan Pauli ada batasnya. Jika massa bintang cukup kecil maka kekuatan gravitasi diri masih kecil. Gaya tolak Pauli masih sanggup menahan bintang agar tidak runtuh ke pusat. Teapi jika massa bintang sangat besar maka gaya tolak Pauli tidak sanggup menahan gravitasi diri sehingga materi bintang tumpah ke pusat. Jadi ada batas massa sehingga bintang masih bisa menahan gravitasi diri. Batas massa ini disebut limit Chandrasekhar yang nilainya sama dengan 1,44 massa matahari.

Limir Chandrasekhar diprediksi secara teliti oleh ahli astrofisika India, Subrahmanyan Chadrasekhar tahun 1930 saat masih berumur 19 tahun. Chandrasekhar mendapat hadiah Nobel tahun 1983. Jika massa bintang kurang dari limit Chandrasekhar maka di akhir hayatnya bintang menjadi katai putih (white dwarf). Tetapi jika massa bintang lebih besar dari limir Chandrasekhar maka di akhir hayatnya bitang akan ambruk dan berubah menjadi bintang neutron atau black hole.

Karena massa matahari kurang dari limit Chadrasekhar maka di akhir hayatnya matahari menjadi bintang katai putih. Dalam 5 miliar tahun ke depan tata surya kita menjadi tempat yang sunyi di alam semesta dengan cahaya matahari yang sangat redup.

Monday, March 17, 2014

Asteroid bencana atau tambang emas


Pada tanggal 1 Januari 1801, seorang ahli astronomi dari Italia, Giuseppe Piazzi, menemukan sebuah obyek tak dikenal di ruang angkasa. Semula ia mengira obyek itu adalah komet, tetapi setelah orbitnya diteliti lebih lanjut ternyata obyek tersebut justru sangat mirip dengan planet. Planet mini ini kemudian dinamai Ceres, mengikuti nama seorang dewi dari Sisilia, Italia. Keberadaan planet mini di antara orbit Mars dan Jupiter ini sudah dapat diprediksi sejak tahun 1772 ketika seorang ahli matematika, Johann Titus, yang bekerja sama dengan ahli astronomi, Johann Bode, berhasil merumuskan persamaan matematika yang menentukan jarak planet-planet terhadap matahari. Persamaan matematika ini memprediksi adanya sebuah planet yang mengorbit pada jarak 2,8 AU dari matahari. 1 AU (Astronomical Unit) atau 1 satuan astronomi merupakan jarak rata-rata planet Bumi terhadap matahari, yaitu sekitar 1,5.108 km.

Beberapa tahun berikutnya ditemukan pula planet-planet mini lainnya yang mirip dengan Ceres, di antaranya Pallas, Vesta, dan Juno. Semua planet mini tersebut mengorbit di antara orbit Mars dan Jupiter. Planet-planet ini tidak bisa disebut sebagai planet yang sebenarnya karena ukurannya terlalu kecil untuk dikategorikan sebagai planet. Planet-planet minor ini kemudian disebut sebagai Asteroid, yang menunjukkan kemiripannya dengan bintang. Penelitian lebih lanjut menunjukkan bahwa asteroid merupakan sisa-sisa planetismal, yaitu penyusun awal sistem tatasurya. Planetismal kemudian perlahan-lahan membentuk planet, tetapi hancur sebelum prosesnya selesai. Peristiwa penghancuran ini disebabkan oleh gaya tarik gravitasi Jupiter yang sangat besar (Jupiter adalah planet terbesar dalam sistem tatasurya kita). Planet yang hancur ini akhirnya menjadi batu-batuan kecil yang tersebar di seluruh tatasurya kita. Teori lain menyatakan bahwa planetismal tidak pernah benar-benar berhasil membentuk planet karena alasan yang masih belum diketahui. Saat ini sudah ditemukan lebih dari 20.000 asteroid yang tersebar antara orbit Bumi sampai di luar orbit Saturnus. Ternyata sebagian besar dari asteroid itu berkumpul dan mengorbit di antara Mars dan Jupiter, pada jarak sekitar 2,1-3,2 AU dari matahari dan membentuk semacam sabuk yang dikenal sebagai Asteroid Belt. Total massa dari semua asteroid ini lebih kecil dari massa bulan karena jika semua asteroid disatukan, diameternya tidak mencapai 1.500 km atau masih lebih kecil dari setengah diameter bulan. Ceres merupakan asteroid terbesar dengan radius sekitar 457 km.

Kadang-kadang ada asteroid ‘nyasar’ yang mengorbit sangat dekat dengan bumi sehingga ada resiko terjadinya tabrakan. Peristiwa tertabraknya bumi oleh asteroid sangat sering menarik perhatian para pembuat film yang selalu menjadikannya cerita fiksi ilmiah yang sangat menarik ditonton, seperti film Armageddon dan Deep Impact. Masyarakat pun jadi mudah terpengaruh oleh cerita-cerita film tersebut sehingga kepanikan sering terjadi setiap kali ada berita mengenai asteroid yang mengorbit sangat dekat dengan bumi. Sebenarnya kemungkinan terjadinya tabrakan dengan asteroid ini sangat kecil karena asteroid ‘nyasar’ yang mengarah ke bumi biasanya langsung tertarik oleh gravitasi Jupiter sehingga hancur menjadi batu-batu kecil. Gravitasi Jupiter ini bagaikan penjaga kita dari bahaya kehancuran akibat peristiwa tabrakan dengan asteroid.

Sesungguhnya asteroid merupakan sumber daya alam yang sangat kaya dan bisa dimanfaatkan. Kita seharusnya jangan menganggap asteroid sebagai sumber bencana dan kehancuran yang terus mengancam kita, tetapi justru melihat asteroid sebagai ‘tambang emas’.

Asteroid mengandung sejumlah mineral dan logam yang bernilai trilyunan dolar. Orbit asteroid yang tidak terlalu jauh dari bumi ini memperbesar kemungkinan dilakukannya penambangan mineral dan logam berharga itu. Kandungan mineral dan logam pada asteroid sangat bervariasi. Secara umum, asteroid dikelompokkan dalam tiga kategori: asteroid tipe C (Carbonaceous), tipe S (Silicaceous), dan tipe M (Metallic). Sekitar 75% asteroid yang sudah ditemukan merupakan asteroid tipe C yang diduga mengandung karbon. Asteroid tipe ini memiliki komposisi kimia yang sangat mirip dengan matahari, hanya saja asteroid ini tidak mengandung gas hidrogen, helium, dan gas-gas volatil lainnya. Orbit asteroid tipe C terletak di bagian luar sabuk utama.

Asteroid tipe S mendominasi bagian dalam sabuk. Ada sekitar 17% asteroid yang termasuk dalam kategori ini. Asteroid ini dua kali lebih terang dari asteroid tipe C. Kandungan mineralnya meliputi logam besi, nikel, besi silikat, dan magnesium silikat.

Sebagian besar asteroid yang tidak termasuk tipe C dan tipe S merupakan asteroid tipe M. Sisanya adalah asteroid-asteroid yang sangat unik dan jarang ditemukan (jumlahnya sangat sedikit). Asteroid tipe M banyak mengorbit pada bagian tengah sabuk. Asteroid tipe ini tersusun dari logam besi dan nikel.
Pengetahuan mengenai kandungan mineral dan logam pada asteroid ini didapatkan melalui spektroskopi teleskopik. Dengan metode ini, cahaya yang dipantulkan oleh asteroid dapat dianalisa spektrumnya sehingga bisa memberi informasi tentang komposisi asteroid. Pada beberapa asteroid, ditemukan pula jejak yang menunjukkan adanya kandungan air, oksigen, emas, dan bahkan platina! Sebuah asteroid yang berdiameter 1 km memiliki massa sekitar 2 milyar ton. Di dalam asteroid tersebut terkandung sekitar 30 juta ton nikel, 1,5 juta ton kobalt, dan 7.500 ton platina! Jika hanya platinanya saja yang bisa ditambang, nilainya sudah melebihi 150 milyar dolar Amerika! Asteroid dengan diameter 1 km semacam ini banyak tersebar di seluruh Asteroid Belt. Benar-benar tambang emas!

Untuk melaksanakan penambangan mineral dan logam yang terkandung dalam asteroid, kita membutuhkan bantuan teknologi yang paling canggih dan paling baik. Yang pertama harus dibangun adalah pesawat ruang angkasa yang bisa membawa para pekerja mendarat dengan selamat dan mulus di permukaan asteroid. Hal ini seharusnya bisa disiapkan dengan mudah karena manusia sudah pernah berhasil mendarat di bulan, padahal ada beberapa asteroid yang orbitnya lebih dekat ke bumi dibanding orbit bulan. Ini berarti kebutuhan bahan bakar untuk mengirimkan pesawat ke asteroid yang dekat dengan bumi itu jauh lebih kecil dari bahan bakar yang digunakan untuk mengirim pesawat ke bulan. Pesawat ruang angkasa yang ekonomis pun harus dibuat supaya bisa sering dikirimkan untuk membawa cadangan makanan dan minuman bagi para pekerja, serta mengangkut peralatan-peralatan yang dibutuhkan untuk proses penambangan. Sesudah proses penambangan selesai, hasil tambang dapat dikirim kembali ke bumi menggunakan pesawat yang sama. Air yang terkandung dalam asteroid dapat diuraikan menjadi gas hidrogen dan oksigen yang kemudian digunakan sebagai bahan bakar roket pendorongnya. Peralatan pertambangannya bisa dikirim ke asteroid berikutnya yang akan ditambang (tidak perlu dikembalikan ke bumi supaya bisa menghemat waktu dan biaya).

Masa depan penambangan asteroid banyak didukung oleh cita-cita manusia untuk membangun koloni di planet lain. Planet Mars merupakan planet yang paling banyak diincar sebagai tempat tinggal kedua setelah bumi. Untuk membangun koloni di Mars, kita harus membangun berbagai fasilitas untuk mendukung kehidupan manusia di sana. Jika kita harus mengirimkan peralatan dan bahan-bahan yang diperlukan dari bumi menuju Mars, biaya yang dikeluarkan sangat besar karena jarak antara bumi dengan Mars bisa mencapai 7,8.107 km. Ini sama sekali tidak efisien dan tidak ekonomis. Padahal asteroid yang banyak tersebar di tatasurya kita itu mengandung semua bahan yang dibutuhkan untuk membangun berbagai konstruksi di Mars. Biaya yang dikeluarkan untuk menambang asteroid memang mahal, tetapi biaya ini tetap jauh lebih murah dibanding biaya yang harus dikeluarkan jika semua bahan harus dikirimkan dari bumi ke Mars maupun ke bulan.

Friday, March 14, 2014

Bumi kita sepanas matahari


Sains memang selalu berkembang. Dari hasil pengukuran yang didapat dari penelitian yang dilakukan ilmuwan dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Perancis didapati perbedaan signifikan mengenai suhu lapisan dalam Bumi. Tak tanggung-tanggung perbedaannya mencapai angka 1.000 derajat Celcius. Perbedaan ini memaparkan dengan jelas mengapa ada medan magnet Bumi. Menurut penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Science ini, untuk memiliki medan magnet kuat, harus ada beda suhu sebesar 1.500 derajat Celcius antara lapisan dalam dan luar Bumi. Berdasarkan pengukuran titik leleh besi, didapatkanlah angka 4.800 derajat Celcius untuk suhu lapisan luar dan 6.000 derajat Celcius untuk suhu lapisan dalam Bumi. Panasnya…

http://sains.kompas.com/read/2013/04/29/08074092/Suhu.Lapisan.Dalam.Bumi.Setara.Permukaan.Matahari

Tuesday, March 11, 2014

Misteri : Masa lalu planet mars


Rasa penasaran manusia terhadap kehidupan di luar bumi terus berlanjut. Mark Thiemen dari UC San Diego menemukan reaksi kimia karbon yang ada di atmosfir Planet Mars yang menunjukkan kemungkinan ada kehidupan pada zaman purba di planet Mars. Robina Shaheen, seorang peneliti dari laboratorium Thiemen menemukan isotop oksigen nomor 17 dalam debu karbon di Planet Mars. Meteor yang melintas dekat mars, ALH84001 juga mengandung isotop oksigen yang anomali tersebut. Dalam pengamatannya pada atmosfer, proses kimia yang menghasilkan isotop ini melibatkan ozon dan karbondioksida. Shaheen menemukan bahwa proses yang hampir sama juga terjadi di atmosfir bumi sehingga penelitian ini juga bermanfaat untuk memprediksi kehidupan purba di planet bumi. Penelitian menarik ini dipublikasikan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences.

http://www.sciencedaily.com/releases/2010/11/101108151330.htm

Wednesday, March 5, 2014

Harapan Hidup di Satelit Super Dingin


Harapan Hidup di Satelit Super Dingin



Kabar baik bagi para pemburu kehidupan di luar Bumi. Dua tahun yang lalu, ketika pesawat NASA,Cassini Solstice spacecraft terbang melewati satelit Dione yang mengorbit Saturnus, pesawat itu mengenali sesuatu yang familiar. Seperti anjing pelacak, wahana angkasa ini langsung mengendus kehadiran oksigen. Bila mendengar kata oksigen, otomatis yang terlintas di pikiran para ilmuwan adalah “kehidupan”. Tentu saja karena oksigen merupakan komponen yang paling penting di Bumi.

Namun, mengingat Satelit Dione memiliki suhu super dingin, dunia es tersebut hanya menyediakan sangat sedikit komponen pendukung kehidupan yang kita kenal. Satelit Diode memang mengandung banyak es beku, tetapi tak ada indikasi adanya molekul air dalam bentuk cair. Seperti yang kita ketahui, air adalah kunci dari evolusi kehidupan di Planet Bumi.

Bila demikian, jika kecil kemungkinan ada kehidupan, mengapa penemuan oksigen di atmosfir Dione menjadi sangat penting? Jawabannya, jika ada oksigen di satelit Dione, kemungkinan di satelit-satelit lain di Planet Jupiter dan Saturnus juga akan ada oksigen. Artinya, ada harapan menemukan kehidupan di satelit-satelit lainnya.

“Beberapa satelit lain memiliki samudera cair sehingga sangat mungkin mereka memiliki kehidupan didalamnya”, ujar Andrew Coates, dari University College London yang memimpin studi ini.
Para ilmuwan memperkirakan bahwa oksigen diproduksi melalui interaksi antara sabuk radiasi planet Saturnus yang kuat dengan molekul es beku di satelit Dione. Radiasi tersebut menghancurkan molekul air sehingga melepaskan oksigen ke atmosfir.

Penemuan oksigen yang menggemparkan ini tak pelak lagi mendorong motivasi para ilmuwan untuk segera mengirimkan misi kesana untuk menemukan bentuk kehidupan alien. Riset Cassinni ini dipublikasikan pada jurnal Geophysical Research Letters.

Tuesday, March 4, 2014

Terdeteksi air diplanet diluar sistem tata surya kita ??

Air telah terdeteksi di atmosfer planet di luar sistem tata surya kita dengan teknik baru yang bisa membantu para peneliti untuk mempelajari berapa banyak planet dengan air , seperti Bumi , ada di seluruh alam semesta . Tim ilmuwan yang membuat penemuan termasuk astronom di Penn State University dan lembaga lainnya . Para astronom mendeteksi air di atmosfer planet Yupiter yang mengorbit bintang terdekat tau Boötis .



Penemuan ini dijelaskan dalam sebuah makalah ilmiah yang diterbitkan dalam 24 Februari 2014 versi online The Astrophysical Journal Letters .
Chad Bender , rekan penelitian di Penn State Departemen Astronomi dan Astrofisika dan rekan - penulis kertas , mengatakan " Planet seperti tau Boötes b , yang Yupiter tapi jauh lebih panas , tidak ada dalam tata surya kita . deteksi kami air di atmosfer tau Boötes b adalah penting karena membantu kita memahami bagaimana planet eksotis hot- Jupiter ini membentuk dan berkembang . Hal ini juga menunjukkan efektivitas teknik baru kami , yang mendeteksi radiasi infra merah di atmosfer planet tersebut . "
Para ilmuwan sebelumnya telah mendeteksi uap air di beberapa planet lain , menggunakan teknik yang bekerja hanya jika planet memiliki orbit yang lewat di depan bintangnya , bila dilihat dari Bumi . Para ilmuwan juga dapat menggunakan teknik pencitraan lain yang bekerja hanya jika planet ini cukup jauh dari bintang induknya . Namun, bagian signifikan dari populasi planet ekstrasolar tidak sesuai salah satu dari kriteria ini , dan belum ada cara untuk menemukan informasi tentang atmosfer planet tersebut .
"Kami sekarang menerapkan teknik inframerah baru efektif untuk beberapa planet non - transit lain yang mengorbit bintang dekat Matahari , " kata Bender . " Planet-planet ini lebih dekat dengan kita daripada planet transit terdekat , tetapi sebagian besar telah diabaikan oleh para astronom karena langsung mengukur atmosfer mereka dengan teknik yang sudah ada sebelumnya yang sulit atau tidak mungkin . " Dengan teknik deteksi baru dan teleskop masa depan yang lebih kuat - seperti James Webb Space Telescope dan Teleskop Tiga Puluh Meter, para astronom berharap untuk dapat memeriksa atmosfer planet yang lebih dingin dan lebih jauh dari bintang induknya , di mana cairan air bahkan lebih mungkin untuk eksis .
Bender memimpin proyek yang lebih besar untuk mengkarakterisasi atmosfer banyak planet ekstrasurya hot- Jupiter . The tau Boötis Penemuan adalah salah satu subkomponen dari proyek yang lebih besar ini . Analisis data dan publikasi tau Boötis penemuan dipimpin oleh Alexandra Lockwood di Caltech sebagai bagian dari tesisnya dengan penasihat nya Geoffrey Blake , Profesor Cosmochemistry dan Planetary Sciences dan Profesor Kimia di Caltech , dan banyak dari reduksi data awal untuk ini penemuan ini dilakukan oleh Alexander Richert , seorang mahasiswa pascasarjana Penn State .

Tuesday, February 25, 2014

“Mengapa di Puncak Gunung Ada Salju Padahal Lebih Dekat ke Matahari?”




“Mengapa di Puncak Gunung Ada Salju Padahal Lebih Dekat ke Matahari?”


Jarak Bumi-Matahari 150 juta km. Andaikan kita bergerak dari permukaan laut hingga pada ketinggian puluhan kilometer maka energi matahari per satuan luas yang kita terima hampir tetap (karena jarak puluhan km dapat diabaikan dari jarak 150 juta km). Apabila badan kita hanya menerima energi radiasi matahari maka suhu badan kita selama naik beberapa puluh kilometer hampir tidak berubah.

Mangapa makin tinggi dari permukaan laut suhu makin rendah sehingga di puncak gunung tinggi ditemukan salju?

Suhu atmosfer tidak ditentukan oleh radiasi langsung matahari. Suhu atmosfer ditentukan oleh berbagai proses termodinamika di permukaan bumi dan di atmosfer. Permukaan bumi dan atmosfer mendapat radiasi matahari terus menerus. Sebagian radisi tersebut diserap, sebagian dilepas kembali ke luar angkasa, sebagian untuk mengubah atom/molekul di atmosfer, sebagian untuk menginduksi reaksi kimia di atmosfer maupun di permukaan bumi.

Kemudian, kerapatan maupun tekanan udara di atmosfer berbeda pada ketinggian yang berbeda. Di lapisan atmosfer yang berbeda terjadi proses fisika maupun kimia yang berbeda pula. Gabungan semua proses tersebut yang pada akhirnya menentukan suhu atmosfer seperti sekarang ini.

Ternyata makin tinggi dari permukaan laut suhu atmosfer tidak turun terus menerus. Mula-mula turun hingga ketinggian sekitar 12 km, lalu naik kembali pada sampai ketinggian 50 km, kemudian kembali turun. Profil suhu seperti ini adaah hasil proses fisika dan kimia yang kompleks.